Pages

Wednesday, 15 January 2014

Waktu

Oleh : Rahmat Amien

Panas, gerah. Itulah kesan hari ini yang begitu membuat badan begitu capek. Apalagi dengan ngatri selama tiga jam hanya untuk mengujukan judul skripsi yang membuat kepala ini pecah.

“hari ini, pak Ham rame juga pasiennya ya” ujar Sari, yang duduk di sebelahku.

“hahhaa, lumayan juga kata ku. Di dalam aja ada 6 orang, belum lagi yang di luar lagi pada ngantri” ujarku seadanya.

“laelah. Kapan kita siap ni. Udah jam berapa coba?” sambil menujukkan jam tangannya di lengan kanan Sari. Dan aku pun merogeh kantong mengambil handphone melihat angka yang tertera di sana.

“udah jam setengah 5 ni. Aku shalat dulu ya” ujarku pada Sari.

“Ok” balasnya sambil tersenyum.

Secepat kilat aku berlari menuju mushala yang berjarak sekitar 100 meter di depan ku. Dengan nafas ngos-ngosan akhirnya aku tiba di depan Mushalla. Namun aku mendapat sial hari itu. Mushallanya ternyata terkunci, dan aku tidak bisa masuk kedalam untuk menunaikan Shalat Ashar yang tertunda. Dengan cepat aku memutar otak memikirkan di mana mushalla terdekat di sini. Akhirnya aku kembali berlari menuju kampus Kedoteran Hewan yang tidak berada jauh dari tempatku berada sekarang. Aku terus berlari bagaikan di kerjar oleh harimau yang siap menerkam di belakangku. Dalam 2 menit akhirnya aku tiba di mushalla terdekat 
kampusku yang hanya berjarak 300 meter.
Dengan penuh keringat dan wajah ngos-ngosan, aku berlari kecil menuju tempat wudhu untuk membasahi anggota badan, sebelum menunaikan ibadah shalat Ashar yang belum ku tunaikan. Meski pun ini belum telat, namun aku merasa berat dalam hati jika tidak berjamaah di masjid seperti yang sering aku kerjakan selama ini. Namun inilah perjuangan ku untuk hari ini yang melelahkan badan dan fikiranku ini.

Waktu terus berjalan dengan detik-detik jarum jam yang terus berputar pada porosnya. Meningalkan angka demi angka dengan pasti. Hingga aku selesai menunaikan kewajiban ku sebagai lelaki muslim, sore ini. Mentari masih dengan teriknya menyinari bumi ini. Dan aku kembali berlari menuju kampus dengan jarak 300 ratus meter di depan, berharap Sari masih menunggu ku di depan sana untuk konsul judul skripsi.

Ketika sampai di kampus aku tidak melihat lagi batang hidung Sari yang tadi duduk di depan prodi menunggu antrian. Lalu ku rogeh saku celana, untuk sekedar bertanya dengan mengetik pesan singkat kepada Sari. Namun di layar handphone tertera dengan jelas sebuah nama yang sudah tidak asing lagi “Sari Nurmala”. Dengan segera aku membaca isi pesan yang di kirimkan oleh Sari.

“Gam. Aku pulang duluan ya. Gak sanggup tunggu lagi ni. Udah hari panas lagi” itulah isi pesan singkat yang di kirim oleh Sari kepada ku sekitar 2 menit yang lalu, yang tidak aku ketahui sama sekali. Mungkin ketika aku sedang berlari tadi, makanya aku tidak merasakan ada SMS masuk, apalagi handphone Samsung Young yang ku gunakan aku silent sebelum aku menunaikan ibadah shalat Ashar tadi. Lalu dengan cepat aku me-replay pesan dari Sari.

“ya. Aku sendirian ni, gak ada kawan. Yaudahlah hati-hati di jalan ya J”

Dengan hati yang sepi, aku menunggu antrian yang begitu panjang ini. Dan akhirnya tibalah giliranku, setelah menunggu selama dua jam setengah. Aku masuk ke ruangan tersebut jam 17:42, sekitar 18 menit lagi ketua jurusan akan mengakhiri konsul bimbingannya hari ini. Dan pak Ham mengatakan, bagi yang tidak sempat lagi hari ini silahkan pulang dan datang lagi hari Sabtu. What hari Sabtu? Aku harus menunggu lagi selama 5 hari untuk konsul. Dengan hati sedikit dongkol sebagian yang tidak sempat konsul dengan pak Ham melangkahkan kakinya keluar ruangan, dan masih ada beberapa di antara mereka yang nekat menunggu.

“maaf pak, saya mau mengajukan judul. Ini sudah di ACC sama buk Dewi.”

“tidak ada tanda tangannya kok, mana buktinya di ACC”

“maaf pak, saya konsulnya via email, buk Dewi terlalu sibuk untuk saya jumpai”

“ok, sabtu tanggal 18 januari kamu kesini lagi ya. Dan silahkan catat nomor handphone kamu” sambil menyodorkan kertas usulan judul yang barusan aku kasih ke kajur di atasnya tertulis, Jadwal konsul Sabtu, 18 Januari 2014. Jam 9 pagi. Lalu dengan sigap aku mengambil kertas yang di berikan oleh pak Ham dan mencatat nomor handphone.

“terima kasih pak, saya permisi dulu” pak Ham hanya tersenyum mendengarnya, lalu aku keluar melewati pintu. Dan kembali satu orang masuk menjumpai pak Ham. Kayaknya kakak itu mau ACC skripsi, karena wisuda hanya beberapa minggu lagi, dan sudah tak sabar untuk segera sidang skripsi.

Hatiku bercampur senang dan kesal. Karena harus menunggu 5 hari lagi untuk konsul judul saja. Mengapa tidak besok atau lusa saja, biar aku cepat pulang ke kampung halaman. Ini karena sudah enam bulan aku tidak pulang ke kampung halaman, hatiku ini seperti di panggil-panggiluntuk segera pulang ke sana. Namun inilah resiko yang harus di hadapai. Dan ini sepenuhnya salah ku, kenapa tidak dari seminggu yang lalu aku menjumpai pak Ham, dan tentunya tidak seperti ini, lagi pula buk Dewi sudah me-replay email yang ku kirim tanggl 5 januari lalu.

Monday, 30 December 2013

Tega!

ik07.wordpress.com

Malam ini dingin, sedingin hatiku yang sedang galau, mungkin aku rindu. Rindu akan hadirmu yang telah lama ku tunggu-tunggu. Namun aku tak berhak untuk merindui mu. Karena kau bukan milikku lagi. Tapi otak ini susah untuk dikendalikan. Masa indah itu kembali terlintas di benak ini. Apa yang harus aku lakukan, Ketika aku galau di buat oleh mu, yang kini bukan milik ku lagi. Mungkin rasa cinta itu masih ada. Masih terpatri dalam hati.

Ah, kenapa kenanga-kenangan itu kembali teringat di benak ini. Bukan kah kau telah pergi menjauh dari ku. Biarkan saja, itu hanya sebuah kenangan yang menjadi sejarah. Kenangan cinta kita. Saat-saat indah ketika kita masih bersama. Aku masih ingat ketika awal kita bertemu dulu, di kantin sekolah kita. Aku marah-marah padamu,karena kau menyenggolku dan menumpahkan minuman yang ada di tangganmu mengenai bajuku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutmu yang seksi itu. Aku sadar aku marah-marah tanpa melihat betapa manisnya dirimu, aku terlalu sibuk membersihkan baju seragamku. Namun kau terus meminta maaf. “maafkan aku, aku tidak sengaja” hanya kata itu yang kau ulang-ulang meski aku terus memaki-maki dirimu. Mungkin kenangan itu terlalu singkat untukku. Namun apa yang harus ku perbuat. Tuhan berkehendak lain.

Harapan demi harapan hilang diterjang badai api cemburu, ketika hati mulai bergemuruh, dada terasa sesak. Masih teringat kalimat yang keluar dari bibir manismu itu, “kita sudah tidak cocok. Lebih baik kita berteman saja”. Hati ini bagai bagai teriris-iris sembilu. Menangis menahan sakit yang menyesakkan dada. Ah, ku pikir kau memang tercipta untukku, namun aku salah. Ah buat apa aku menyalahkan diri sendiri, mungkin sekarang kita berpisah dan kita tidak tahu apa rencana tuhan yang sebenarnya. Mungkin memang benar, tulang rusuk ku yang hilang diciptakan untukmu.

Aku terus menangis sepanjang malam, mengingat kenapa kau harus melakukan ini padaku, hati ini terlalu sakit menerima kenyataan, apakah aku harus menyalahkan tuhan atas kerana kau putuskan cintaku yang tulus padamu. Aku tak tahu, apakah aku harus menyalahlakan tuhan atas kepergianmu dari hidupku.
***

Maafkan aku, yang telah menyakiti hatimu. Sejujurnya aku tak tega memutuskanmu. Karena kau sangat berarti dalam hidupmu. Namun kenyataan itu akan lebih pahit lagi ketika tahu aku hanyalah secuil dosa yang pernah hadir di hidupmu. Aku terpaksa melakukan ini, agar kau tak malu menerima kenyataan itu.

Aku sudah merencanakan ini, semenjak aku tak tahan melihat kelakuan Bapakku yang semakin hari semakin menyiksa Ibu, setiap hari Bapak terus mencaci maki Ibu, bahkan Bapak tak segan-segan main kasar kepada Ibu. Aku tak tega melihat Ibu yang setiap hari terus di siksa oleh Bapak. Mungkin ini bermula ketika Bapak mengalami gulung tikar dari usaha yang dirintisnya, semanjak itu kami harus tinggal di kontrakkan kecil.

Aku ingat hari itu aku telah bertekat untuk menghabisi Bapak. Tepat di hari aku memutaskan mu Dinda. Namun tekat ku semakin bulat ketika aku melihat Bapak sedang mengamuk di rumah, bahkan Bapak tak segan-segan untuk membunuh Ibu apalagi aku. Hari itu kesabaran ku sudah tak dapat ku tahan lagi, Bapak dengan sengaja mamasukkan perempuan selain Ibu ke rumah, aku tidak tahu siapa dia. Mungkin wanita yang ditemukan Bapak di pinggir jalan sana. Ibu tak tahan melihat kelakuan Bapak, hari itu ibu bertengkar hebat dengan Bapak. Bahkan ibu juga sempaty meminta cerai kepada Bapak. Namun Bapak tidak menggubrisnya. Malah bapak menghajar ibu tanpa ampun.

Hari itu juga aku melihat ibu di cekik oleh Bapak, aku terkesiap dan melangkah menghajar Bapak. Sedangkan wanitu itu asik duduk manis sambil melambungkan asap rokok yang di hisapnya. Bahkan Bapak semakin leluasa mencekik Ibu dan mendorongku hingga membentur tembok kontrakan kami. Aku melihat ibu semakin tidak berdaya menahan cekikan yang di lakukan oleh bapak.

Kepala ku terasa sakit, mungkin akibat dorongan yang sangat kuat oleh Bapak hingga kepala ku terbentur tembok. Aku meringis kesakitan, sambil memanggang kepala ku yang terasa sakit. Aku merasakanada sesuatu yang kental keluar dala kepalaku, dan sedikit anyir. Ya akibat benturan yang kuat itu kepala ku mengeluarkan darah segar. Sedangkan ibu semakin tak berdaya. Aku mengambil botol minuman keras yang berada tepat di sampingku, lalu aku memukul botol itu ke kepala bapak. Bapak meringis kesakitan, dan berhenti mencekik ibu. Aku segera menolong ibu, namun ibu sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku menangis sesegukan sambil memeluk ibu.

Lalu ada aku merasakan sakit yang teramat ketika ada benda yang menusuk tepat di perutku. Bahkan aku merasakan perutku semakin di tusuk-tusuk dengan benda tajam, aku berteriak menahan sakit ketika aku di tusuk-tusuk, aku semakin tak tahan menahan sakit ini, mataku semakin lama semakin buram. Aku semakin lemas dan terjatuh tepat di atas jasad ibu. bahkan aku tak sanggup lagi membuka mata, mataku semakin lama semakin kabur, hingga akhir aku menutup mata.

Bau anyir tercium di mana-mana. Wanita itu berteriak keras meminta tolong. Bahkan bapak juga membentur kepala wanita itu ke tembok hingga ia diam, dan aku tidak mendengar suaranya lagi.
***

Aku semakin kacau, bahkan hari ini aku merasa malas untuk berangkat ke sekolah. Bunda merasa cemas, bahkan Bunda berniat memanggil dokter memeriksa keadaanku yang seang drop karena patah hati di putuskan oleh Randi.

“Apa perlu Bunda panggilakan dokter sayang” Tanya Bunda
“tidak perlu Bun, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak badan saja” jelas ku seadanya.
Hari itu aku hanya melamun di depan tivi. Mengganti canel demi canel. Bahkan aku merasa tidak ada siaran yang bagus hari itu.

“permisa. Seorang Bapak tega membunuh Istri dan Anaknya, sekarang tersangka yang berinisial WT”

Aku terkesiap melihat om wisnu di berita itu, apa benar yang di beritakan itu? Batin ku semakin terkesiap tidak sanggup menerima kenyataan. “Om Wisnu membunuh istri dan anaknya????” aku semakin tidak menyangka. Bahkan aku berteriak histeris yang membuat Bunda kaget. Lalu aku merasa lemas, mataku semakin mengeluarkan air mata dan terjatuh tak sadarkan diri.

Monday, 26 August 2013

Di Bawah Lembayung Senja

Di antara mega-mega, tersirat kagum yang menakjubkan.
Lembayung senja mengukir mega-mega.
Di antara padatnya lalulintas jalanan.
Di antara anak kecil berjalan kaki, menuju surau mengenal Alif, Ba, Ta, Tsa.
Mengukir mimpi, di antara hilir pikuk kendaraaan yang terlihat jelas.
lembayung senja terlihat lebih real.
Di antara para pekerja yang kembali pulang
Di antara pemuda yang berjalan menuju masjid.
Semua terlihat lebih nyata di bawah lembayung senja
Aku terlalu sibuk memperhatikan
Melukis kata demi kata hingga menjadi kalimat
Kini lembayung senja pergi!
Gelap pun menggantikan.
kini malam tiba.
Dari lantunan panggilan ilahi, aku beranjak pergi.
Di depan jalanan raya, Blangpidie - Nagan Raya. 21 Agustus 2013, 18:48 WIB

Tuesday, 20 August 2013

Hujan dalam Ingatan!

Sengin kala hujan turun.
Aku terpaku dalam kehangatan selimut ini,
Hujan turun deras membasahi tanah-tanah yang dulu kering.
Suaranya begitu lantang memecahkan suasana.
Tik tik tik terdengar dengan keras dari atas genteng rumahku.
Ya hujan, setiap kali ia turun menyapa bumu.
Selalu ada kerinduan yang menyapa.
Kerinduan masa kecil yang indah
Menuai kisah dalam kehangatan,
Hujan bagaikan elegi yang bersimponi kerinduan
meski batin kini nelangsa
namun mata sudah sayu dalam kedinginan dan keheningan malam
dan aku pun tertidur pulas
bermimpi mengenang dan kembali ke masa yang tak bertepi
kisah manis, menanti senja di ujung sungai
kembali-kembali berputar-putar dalam kisah
ah, biarkan ku akhiri saja mimpi ini,
terlalu lemas batin ini mengenang kenangan manis yang sudah menjadi sejarah

August 19, 2013 at 8:33pm

Friday, 26 July 2013

Somebody Help Me

Oleh : Rahmat Amien

Dalam tumpukan-tumpukan kertas yang bertabur.
Berserakan entah berantah.
Deadline harus di buru.
Mengejar nilai yang ingin di capai.
Ah. Tak akan pernah selesai.
Dari pagi hingga malam dan pagi lagi.
Lelah badan, tak kunjung usai.
Telpon sana, telpon sini.
Kawan kelompok, bersantai angkat kaki.
Namun hanya teman yang baik yang paling mengerti.
Insomnia sudah jadi kebiasaan diri.
Mengejar deadline yang sudah pasti.
Tak luput doa di hati.
Mengejakannya meski malam hari.
Oh tuhan, berilah hamba kekuatan dalam mengerjakan tugas ini.
Lelah badan tak terfikirkan lagi.
Semangat dari pacar sudah mulai basi.
Lalu bagaimana ini?
Samebody help me

Lamnyong, 26 Juli 2013 pukul 5:08