Gerimis turun membasahi bumi ku berpijak.
Rintiknya turun membasahi genteng rumah ini, dia dan mereka..
Bocah kecil, bermain dengan gembira, diterangi oleh lampu neon diteras ini..
Sesekali ia tetawa senang bahagia,,
bahagia menikmati malam dengan sejuta keindahan.
Showing posts with label puisiku. Show all posts
Showing posts with label puisiku. Show all posts
Tuesday, 22 April 2014
Tuesday, 15 April 2014
Rindu (2)
Rindu ini benar2 tak bertuan
di tengah kabut dingin sang malam.
Hati bagai berbisik, mengingat kisah 3tahun silam
lalu haruskah aku bercerita kepada sang bintang malam ini..
Atau bercerita dgan kata2
malam memang tak berbintag, kala mega menutupi sang langit..
Dari balik jendela kaca aku bercerita di tengah kegalauan malam
di tengah kabut dingin sang malam.
Hati bagai berbisik, mengingat kisah 3tahun silam
lalu haruskah aku bercerita kepada sang bintang malam ini..
Atau bercerita dgan kata2
malam memang tak berbintag, kala mega menutupi sang langit..
Dari balik jendela kaca aku bercerita di tengah kegalauan malam
Label:
puisi rindu,
puisiku,
rindu,
status
Sunday, 6 April 2014
Gerimis Malam dalam Ketakutan
![]() |
| shahibu.blogspot.com |
Mendekam dalam ketakutan yang luar biasa,
Gelap dalam kelap lampu yang tak menyala
Angin kencang di tambah rintik hujan walau hanya sejenak
Ia mendesau bagaikan bernyanyi dengan irama alam
Sejenak dalam ketakutan yang di susul dengan keributan angin yang melambai-lambaikan dedaunan malam
Angin, ia menggerakan rambutku yang tak terurai
Ia berlalu sejenak, kemudian reda dengan gerimis malam yang mendekam dengan ketakutan
Label:
angin,
Coretan Malam,
gerimis,
puisiku
Thursday, 6 February 2014
Waktu...
Begitu banyak telah ku lewatkan,
Begitu banyak sudah ku sia-siakan..
Dengan tanpa ku sadari, setiap detik berjalan meninggalkan ku.
Dan mereka sudah menjadi masa lalu yang baru terjadi
Waktu, Andai aku mengerti
Kau berlalu tanpa ku kutahui..
Di sini aku terus mencari sesuatu yang tak pernah ku ketahui..
Begitu banyak sudah ku sia-siakan..
Dengan tanpa ku sadari, setiap detik berjalan meninggalkan ku.
Dan mereka sudah menjadi masa lalu yang baru terjadi
Waktu, Andai aku mengerti
Kau berlalu tanpa ku kutahui..
Di sini aku terus mencari sesuatu yang tak pernah ku ketahui..
Wednesday, 5 February 2014
Ajal!!
Terbaring lelah di atas kasur nan empuk
Angin mendayu masuk dari celah jendela
menatap langit cahaya terik matahari..
mata berkunang-kunang, buram. Seolah tertidur pulas
hingga tiba sosok bayangan putih yang datang mengakiri hidup ini
Angin mendayu masuk dari celah jendela
menatap langit cahaya terik matahari..
mata berkunang-kunang, buram. Seolah tertidur pulas
hingga tiba sosok bayangan putih yang datang mengakiri hidup ini
Monday, 26 August 2013
Di Bawah Lembayung Senja
Di antara mega-mega, tersirat kagum yang menakjubkan.
Lembayung senja mengukir mega-mega.
Di antara padatnya lalulintas jalanan.
Di antara anak kecil berjalan kaki, menuju surau mengenal Alif, Ba, Ta, Tsa.
Mengukir mimpi, di antara hilir pikuk kendaraaan yang terlihat jelas.
lembayung senja terlihat lebih real.
Di antara para pekerja yang kembali pulang
Di antara pemuda yang berjalan menuju masjid.
Semua terlihat lebih nyata di bawah lembayung senja
Aku terlalu sibuk memperhatikan
Melukis kata demi kata hingga menjadi kalimat
Kini lembayung senja pergi!
Gelap pun menggantikan.
kini malam tiba.
Dari lantunan panggilan ilahi, aku beranjak pergi.
Lembayung senja mengukir mega-mega.
Di antara padatnya lalulintas jalanan.
Di antara anak kecil berjalan kaki, menuju surau mengenal Alif, Ba, Ta, Tsa.
Mengukir mimpi, di antara hilir pikuk kendaraaan yang terlihat jelas.
lembayung senja terlihat lebih real.
Di antara para pekerja yang kembali pulang
Di antara pemuda yang berjalan menuju masjid.
Semua terlihat lebih nyata di bawah lembayung senja
Aku terlalu sibuk memperhatikan
Melukis kata demi kata hingga menjadi kalimat
Kini lembayung senja pergi!
Gelap pun menggantikan.
kini malam tiba.
Dari lantunan panggilan ilahi, aku beranjak pergi.
Di depan jalanan raya, Blangpidie - Nagan Raya. 21 Agustus 2013, 18:48 WIB
Label:
di bawah lembayung senja,
puisiku,
senja
Tuesday, 20 August 2013
Hujan dalam Ingatan!
Sengin kala hujan turun.
Aku terpaku dalam kehangatan selimut ini,
Hujan turun deras membasahi tanah-tanah yang dulu kering.
Suaranya begitu lantang memecahkan suasana.
Tik tik tik terdengar dengan keras dari atas genteng rumahku.
Ya hujan, setiap kali ia turun menyapa bumu.
Selalu ada kerinduan yang menyapa.
Kerinduan masa kecil yang indah
Menuai kisah dalam kehangatan,
Hujan bagaikan elegi yang bersimponi kerinduan
meski batin kini nelangsa
namun mata sudah sayu dalam kedinginan dan keheningan malam
dan aku pun tertidur pulas
bermimpi mengenang dan kembali ke masa yang tak bertepi
kisah manis, menanti senja di ujung sungai
kembali-kembali berputar-putar dalam kisah
ah, biarkan ku akhiri saja mimpi ini,
terlalu lemas batin ini mengenang kenangan manis yang sudah menjadi sejarah
August 19, 2013 at 8:33pm
Aku terpaku dalam kehangatan selimut ini,
Hujan turun deras membasahi tanah-tanah yang dulu kering.
Suaranya begitu lantang memecahkan suasana.
Tik tik tik terdengar dengan keras dari atas genteng rumahku.
Ya hujan, setiap kali ia turun menyapa bumu.
Selalu ada kerinduan yang menyapa.
Kerinduan masa kecil yang indah
Menuai kisah dalam kehangatan,
Hujan bagaikan elegi yang bersimponi kerinduan
meski batin kini nelangsa
namun mata sudah sayu dalam kedinginan dan keheningan malam
dan aku pun tertidur pulas
bermimpi mengenang dan kembali ke masa yang tak bertepi
kisah manis, menanti senja di ujung sungai
kembali-kembali berputar-putar dalam kisah
ah, biarkan ku akhiri saja mimpi ini,
terlalu lemas batin ini mengenang kenangan manis yang sudah menjadi sejarah
August 19, 2013 at 8:33pm
Label:
hujan,
hujan dalam ingatan,
puisiku
Friday, 26 July 2013
Somebody Help Me
Dalam tumpukan-tumpukan kertas yang bertabur.
Berserakan entah berantah.
Deadline harus di buru.
Mengejar nilai yang ingin di capai.
Ah. Tak akan pernah selesai.
Dari pagi hingga malam dan pagi lagi.
Lelah badan, tak kunjung usai.
Telpon sana, telpon sini.
Kawan kelompok, bersantai angkat kaki.
Namun hanya teman yang baik yang paling mengerti.
Insomnia sudah jadi kebiasaan diri.
Mengejar deadline yang sudah pasti.
Tak luput doa di hati.
Mengejakannya meski malam hari.
Oh tuhan, berilah hamba kekuatan dalam mengerjakan tugas ini.
Lelah badan tak terfikirkan lagi.
Semangat dari pacar sudah mulai basi.
Lalu bagaimana ini?
Samebody help me
Lamnyong, 26 Juli 2013 pukul 5:08
Label:
puisiku,
somebody help me
Tuesday, 9 July 2013
Dalam diam
Oleh : Rahmat Amien
Kau berjalan cukup jauh,
sehingga tidak dapat kugapai.
Aku berhenti mengejar, kala hujan jatuh.
Aku tertahan di sini, di antara rinai-rinai yang jatuh.
Ragaku tertahan di sini, namun fikiranku berkelana untuk mengejarmu..
Aku terusik dengan ketakutan
dengan perasaan.
Dalam lamunan ku, hanya ada kamu.
Namun aku hanya bisa mencintai dalam diam.
Itu saja yang bisa aku lakukan.
Cinta dalam diam
Membisu dalam perasaan
Antara kebingungan
Aku mencintaimu dalam diam
Meunasah Bakhtu, 6 Juli 2013 (22:38)
Kau berjalan cukup jauh,
sehingga tidak dapat kugapai.
Aku berhenti mengejar, kala hujan jatuh.
Aku tertahan di sini, di antara rinai-rinai yang jatuh.
Ragaku tertahan di sini, namun fikiranku berkelana untuk mengejarmu..
Aku terusik dengan ketakutan
dengan perasaan.
Dalam lamunan ku, hanya ada kamu.
Namun aku hanya bisa mencintai dalam diam.
Itu saja yang bisa aku lakukan.
Cinta dalam diam
Membisu dalam perasaan
Antara kebingungan
Aku mencintaimu dalam diam
Meunasah Bakhtu, 6 Juli 2013 (22:38)
Label:
dalam diam,
puisiku
Tuesday, 18 June 2013
Puisi Rindu
Oleh : Rahmat Amien
Sayang, izinkan aku tuliskan puisi rindu untukmu
Saat matahari tenggelam, maka pandangilah dia
Aku akan hadir di antara siluet-siluet rindu
Sayang, lihatlah. Bukankah senja itu indah
Ada gumpalan-gumpalan merah saga di ujung sana
Indah, memancarkan cahaya, bagaikan melagukan kerinduan
Metahari kian tenggelam di makan oleh gelapnya malam
Namun ia akan tetap hadir hari esok sayang.
Meski nyawa tak lagi di badan
Sayang, angin disini sungguh dingin.
Ku titipkan pesan rindu ini padamu melaluinya
Ku harap kau merasakan kerinduan ini
Di setiap nafasmu yang kau hirup
Telah ku titipkan pesan rindu yang di bawa angin lalu
Sayang, rasakan kerindanku
Aku sungguh merindukanmu di sisni.
Tungkop. 17 Juni 2013 (17:59 WIB)
Sayang, izinkan aku tuliskan puisi rindu untukmu
Saat matahari tenggelam, maka pandangilah dia
Aku akan hadir di antara siluet-siluet rindu
Sayang, lihatlah. Bukankah senja itu indah
Ada gumpalan-gumpalan merah saga di ujung sana
Indah, memancarkan cahaya, bagaikan melagukan kerinduan
Metahari kian tenggelam di makan oleh gelapnya malam
Namun ia akan tetap hadir hari esok sayang.
Meski nyawa tak lagi di badan
Sayang, angin disini sungguh dingin.
Ku titipkan pesan rindu ini padamu melaluinya
Ku harap kau merasakan kerinduan ini
Di setiap nafasmu yang kau hirup
Telah ku titipkan pesan rindu yang di bawa angin lalu
Sayang, rasakan kerindanku
Aku sungguh merindukanmu di sisni.
Tungkop. 17 Juni 2013 (17:59 WIB)
Label:
puisi rindu,
puisiku,
rindu
Monday, 10 June 2013
Risau
Tak selamana manusia itu sehat
kadang badan sehat, namun fikiran tidak!
Tak selamanya manusia itu benar
Kadang ia juga khilaf
Aku Risau.
Akukacau.
Aku galau
Perasaan yang tiba-tiba menerkam badan
Jika aku pergi malam ini.
Maafkan kesalahan yang pernah terjadi diantara kita
Rukoh, 6 Juni 2013 / 19;48 WIB
kadang badan sehat, namun fikiran tidak!
Tak selamanya manusia itu benar
Kadang ia juga khilaf
Aku Risau.
Akukacau.
Aku galau
Perasaan yang tiba-tiba menerkam badan
Jika aku pergi malam ini.
Maafkan kesalahan yang pernah terjadi diantara kita
Rukoh, 6 Juni 2013 / 19;48 WIB
Saturday, 8 June 2013
Angin senja
oleh Rahmat Amien
Angin senja mendayu begitu merdu
nyanyian ilalang begitu berirama.
Anak-anak bermain ria.
Bersama layang-layang kecil yang melayang di mega.
Angin senja begitu sejuk dan damai dalam kesenangan.
Awan bergerak perlahan.
Angin senja mengibas-ngibas rambutku yang terurai.
Mentari tak lagi terang sebentar lagi ia akan kembali keperaduannya
yang di ganti dengan pekat malam.
Angin senja begitu damai menyapa daratan..
Nyiur kelapa melambai-lambai mesra.
Lihat, lihat mereka berlarian
mengejar layang-layang putus di bawa angin.
Kesenangan dan keceriaan begitu tergambar mesra.
Angin senja menyisakan kerinduan.
Ranting bergoyong mengikuti irama angin.
Mereka berteriak ke girangan.
Layang-layang terpegang di tangan.
Angin senja bersama matahari yang kian tenggelam.
Menyisakan kirunduan yang mendalam.
Hingga tiba esok hari
pada 8 Juni 2013 pukul 18:36
Angin senja mendayu begitu merdu
nyanyian ilalang begitu berirama.
Anak-anak bermain ria.
Bersama layang-layang kecil yang melayang di mega.
Angin senja begitu sejuk dan damai dalam kesenangan.
Awan bergerak perlahan.
Angin senja mengibas-ngibas rambutku yang terurai.
Mentari tak lagi terang sebentar lagi ia akan kembali keperaduannya
yang di ganti dengan pekat malam.
Angin senja begitu damai menyapa daratan..
Nyiur kelapa melambai-lambai mesra.
Lihat, lihat mereka berlarian
mengejar layang-layang putus di bawa angin.
Kesenangan dan keceriaan begitu tergambar mesra.
Angin senja menyisakan kerinduan.
Ranting bergoyong mengikuti irama angin.
Mereka berteriak ke girangan.
Layang-layang terpegang di tangan.
Angin senja bersama matahari yang kian tenggelam.
Menyisakan kirunduan yang mendalam.
Hingga tiba esok hari
pada 8 Juni 2013 pukul 18:36
Label:
angin senja,
puisiku,
senja
Penat!
oleh Rahmat AMien
Penat dalam kebisingan.
Panas dalam ruangan.
Bagaikan jeritan yang tak tau arah.
Gaduh dengan teriakan.
Tatapan lirihnya begitu dalam dan bersahaja.
Tak ada yang memperdulikannya di sana.
Bersama ilmu yang di milikinya.
Tak perduli di dengar atau tidak.
Tak perduli di mengerti atau tidak.
Sulit sekali menjinakkan manusia-manusia
yang katanya berpendidikan.
Namun tak pernah menghargai yang di depan.
Gaduh, berisik, cuek, berkumpul jadi satu.
Menjadi saling tak perduli.
pada 8 Juni 2013 pukul 17:30
Penat dalam kebisingan.
Panas dalam ruangan.
Bagaikan jeritan yang tak tau arah.
Gaduh dengan teriakan.
Tatapan lirihnya begitu dalam dan bersahaja.
Tak ada yang memperdulikannya di sana.
Bersama ilmu yang di milikinya.
Tak perduli di dengar atau tidak.
Tak perduli di mengerti atau tidak.
Sulit sekali menjinakkan manusia-manusia
yang katanya berpendidikan.
Namun tak pernah menghargai yang di depan.
Gaduh, berisik, cuek, berkumpul jadi satu.
Menjadi saling tak perduli.
pada 8 Juni 2013 pukul 17:30
Fikirkan satu nama
Oleh Rama Hasan
Lihat ke atas. Lukiskan keingananmu
disana.
Gerakkan tanganmu
membentuk huruf demi huruf.
Fikirkan satu nama saja
Bintang di sana akan mengisyaratkan kemenangan dalam ke iklasan hati.
Jangan ragu, tuliskan kata demi kata.
Bintang melayang di angkasa raya,
memancarkan keindahannya.
Ku yakin goresan kerinduanmu akan terbaca olehnya.
Lukiskan dengan harapan, bahwa ia akan melihat lukisan isi hatimu bersama bintang malam ini.
Fikirkan satu nama
Gerakkan tanganmu
membentuk huruf demi huruf.
Fikirkan satu nama saja
Bintang di sana akan mengisyaratkan kemenangan dalam ke iklasan hati.
Jangan ragu, tuliskan kata demi kata.
Bintang melayang di angkasa raya,
memancarkan keindahannya.
Ku yakin goresan kerinduanmu akan terbaca olehnya.
Lukiskan dengan harapan, bahwa ia akan melihat lukisan isi hatimu bersama bintang malam ini.
Fikirkan satu nama
pada 7 Juni 2013 pukul 22:26
Label:
puisiku
Aku cemburu pada langit
oleh Rama Hasan
Aku cemburu pada langit malam ini.
Dia begitu polos dengan keindahannya.
Aku tahu cinta itu anugrah.
Aku hanya akan diam dalam kehampaan hati.
Yang datang dengan banyak harapan.
Aku cemburu pada langit malam ini.
Ia yang memancarkan cahaya kecemburuan malam ini.
Hati bergejolak dengan cinta ini.
Aku cemburu pada langit yang pekat malam ini
ia membisikkan kerinduan
namun juga membuat kegundahan yang meraja
Dia begitu polos dengan keindahannya.
Aku tahu cinta itu anugrah.
Aku hanya akan diam dalam kehampaan hati.
Yang datang dengan banyak harapan.
Aku cemburu pada langit malam ini.
Ia yang memancarkan cahaya kecemburuan malam ini.
Hati bergejolak dengan cinta ini.
Aku cemburu pada langit yang pekat malam ini
ia membisikkan kerinduan
namun juga membuat kegundahan yang meraja
pada 7 Juni 2013 pukul 22:02
Label:
puisiku
Monday, 3 June 2013
Sepertiga malam
Oleh : Rama Hasan
Terbangun dan terkejut.
Mimpi itu seolah nyata.
Ku coba bangkit, membasihi tubuhku dengan wudhu rindu.
Ku bentangkan sajadah cinta.
Ku tegakkan tubuh di sepertiga malam ini.
Memohon ampun pada-Nya atas kealpaan diri.
Sujud demi sujud terjadi.
Mengucapkan syukur dan doa di ujung shalat ku ini.
Mimpi itu seolah nyata.
Ku coba bangkit, membasihi tubuhku dengan wudhu rindu.
Ku bentangkan sajadah cinta.
Ku tegakkan tubuh di sepertiga malam ini.
Memohon ampun pada-Nya atas kealpaan diri.
Sujud demi sujud terjadi.
Mengucapkan syukur dan doa di ujung shalat ku ini.
Tungkop, 3 Juni 2013 (02:41 WIB)
Label:
puisiku
Ayo bangkit
Oleh Rahmat Amien
Jangan malas. Bangkit dan kerjakan.
Tunggu apalagi, lakukan sekarang.
Jangan melawan perintah orang tua, karena itu dosa.
Bangkit dan ikuti perintah itu.
Buang rasa malasmu.
Bangkit lalu kerjakan dengan ikhlas.
Malas itu rayuan setan.
Jangan kau turuti. Karena kau bukan budak setan.
Ayo bangkit dan kerjakan.
Jangan menunda-nunda, karena waktu itu singkat.
Belum tentu kau akan melihat senyum manis itu di bibirnya esok.
Tuhan bisa saja berkehendak seperti yang dia mau.
Ayo bangkit dan ikuti perintah.
Jangan lakukan karena terpaksa, itu bisa menimbul umpatan di hati.
Berikan senyum iklasmu dan lakukan dengan tulus hati.
Tungkop, 2 Juni 2013 pukul 16:48
Jangan malas. Bangkit dan kerjakan.
Tunggu apalagi, lakukan sekarang.
Jangan melawan perintah orang tua, karena itu dosa.
Bangkit dan ikuti perintah itu.
Buang rasa malasmu.
Bangkit lalu kerjakan dengan ikhlas.
Malas itu rayuan setan.
Jangan kau turuti. Karena kau bukan budak setan.
Ayo bangkit dan kerjakan.
Jangan menunda-nunda, karena waktu itu singkat.
Belum tentu kau akan melihat senyum manis itu di bibirnya esok.
Tuhan bisa saja berkehendak seperti yang dia mau.
Ayo bangkit dan ikuti perintah.
Jangan lakukan karena terpaksa, itu bisa menimbul umpatan di hati.
Berikan senyum iklasmu dan lakukan dengan tulus hati.
Tungkop, 2 Juni 2013 pukul 16:48
Label:
ayo bangkit,
puisiku
Mencari!
oleh
Rama Hasan
Mencari mendapat benci.
Mencari adalah ritual diri.
Dalam kesendirian. Sepi.
Galau hati tak terpikirkan lagi.
Mencari dan terus mencari.
Kata yang mengganjal di hati.
Hingga aku merasa lega ketika sudah mendapatkan
Apa yang ku cari selama ini.
Mencari, mencari dan mencari.
Apa yang aku cari?
Aku pun tak tahu.
Mencari sesuatu yang tak pasti.
Yang merisaukan hati
Tak dapat ku pungkiri lagi.
Hati ini risua memikirkannya nanti
Cinta.??
Apakah aku mencari cinta??
Hemm. Mungkin itu yang mengganjal hati ini
Mencari adalah ritual diri.
Dalam kesendirian. Sepi.
Galau hati tak terpikirkan lagi.
Mencari dan terus mencari.
Kata yang mengganjal di hati.
Hingga aku merasa lega ketika sudah mendapatkan
Apa yang ku cari selama ini.
Mencari, mencari dan mencari.
Apa yang aku cari?
Aku pun tak tahu.
Mencari sesuatu yang tak pasti.
Yang merisaukan hati
Tak dapat ku pungkiri lagi.
Hati ini risua memikirkannya nanti
Cinta.??
Apakah aku mencari cinta??
Hemm. Mungkin itu yang mengganjal hati ini
Tungkop, 2 Juni 2013 pukul 15:15
Label:
puisiku
Ini hari minggu.
oleh
Rama Hasan
Dingin menembus pori-pori kulitku.
Hujan semalam begitu deras,
dan sangat terasa pagi ini. Dingin.
Ku ucapkan syukur alhamdulillah pada-Nya
Ku mulai hariku dengan bismillah.
Ku kerjakan perkejaan rumah yang begitu membuatku pasrah.
Ini hari minggu.
Hari bersih-bersih bagi orang kampung.
Tak boleh malas, karena ini kewajiban mu anak-anak desa.
Yang tak boleh mengeluh dan putuh asa bagai anak kota.
Kerjakan saja dengan senang hati dan lapang dada.
Kau tahu, ini tugas mu sebagai anak Mak.
Membatu perkerjaannya adalah pahala bagimu.
Tak usah termenung dan galau dengan tumpukan baju itu.
Mulailah satu sehingga mengurangi bebanmu hari ini.
Keep spirit, smile and worked.
Hujan semalam begitu deras,
dan sangat terasa pagi ini. Dingin.
Ku ucapkan syukur alhamdulillah pada-Nya
Ku mulai hariku dengan bismillah.
Ku kerjakan perkejaan rumah yang begitu membuatku pasrah.
Ini hari minggu.
Hari bersih-bersih bagi orang kampung.
Tak boleh malas, karena ini kewajiban mu anak-anak desa.
Yang tak boleh mengeluh dan putuh asa bagai anak kota.
Kerjakan saja dengan senang hati dan lapang dada.
Kau tahu, ini tugas mu sebagai anak Mak.
Membatu perkerjaannya adalah pahala bagimu.
Tak usah termenung dan galau dengan tumpukan baju itu.
Mulailah satu sehingga mengurangi bebanmu hari ini.
Keep spirit, smile and worked.
Tungkop,
2 Juni 2013 pukul 10:48
Label:
puisiku
Subscribe to:
Posts (Atom)
