Gerimis turun membasahi bumi ku berpijak.
Rintiknya turun membasahi genteng rumah ini, dia dan mereka..
Bocah kecil, bermain dengan gembira, diterangi oleh lampu neon diteras ini..
Sesekali ia tetawa senang bahagia,,
bahagia menikmati malam dengan sejuta keindahan.
Showing posts with label puisi rindu. Show all posts
Showing posts with label puisi rindu. Show all posts
Tuesday, 22 April 2014
Tuesday, 15 April 2014
Rindu (2)
Rindu ini benar2 tak bertuan
di tengah kabut dingin sang malam.
Hati bagai berbisik, mengingat kisah 3tahun silam
lalu haruskah aku bercerita kepada sang bintang malam ini..
Atau bercerita dgan kata2
malam memang tak berbintag, kala mega menutupi sang langit..
Dari balik jendela kaca aku bercerita di tengah kegalauan malam
di tengah kabut dingin sang malam.
Hati bagai berbisik, mengingat kisah 3tahun silam
lalu haruskah aku bercerita kepada sang bintang malam ini..
Atau bercerita dgan kata2
malam memang tak berbintag, kala mega menutupi sang langit..
Dari balik jendela kaca aku bercerita di tengah kegalauan malam
Label:
puisi rindu,
puisiku,
rindu,
status
Tuesday, 18 June 2013
Puisi Rindu
Oleh : Rahmat Amien
Sayang, izinkan aku tuliskan puisi rindu untukmu
Saat matahari tenggelam, maka pandangilah dia
Aku akan hadir di antara siluet-siluet rindu
Sayang, lihatlah. Bukankah senja itu indah
Ada gumpalan-gumpalan merah saga di ujung sana
Indah, memancarkan cahaya, bagaikan melagukan kerinduan
Metahari kian tenggelam di makan oleh gelapnya malam
Namun ia akan tetap hadir hari esok sayang.
Meski nyawa tak lagi di badan
Sayang, angin disini sungguh dingin.
Ku titipkan pesan rindu ini padamu melaluinya
Ku harap kau merasakan kerinduan ini
Di setiap nafasmu yang kau hirup
Telah ku titipkan pesan rindu yang di bawa angin lalu
Sayang, rasakan kerindanku
Aku sungguh merindukanmu di sisni.
Tungkop. 17 Juni 2013 (17:59 WIB)
Sayang, izinkan aku tuliskan puisi rindu untukmu
Saat matahari tenggelam, maka pandangilah dia
Aku akan hadir di antara siluet-siluet rindu
Sayang, lihatlah. Bukankah senja itu indah
Ada gumpalan-gumpalan merah saga di ujung sana
Indah, memancarkan cahaya, bagaikan melagukan kerinduan
Metahari kian tenggelam di makan oleh gelapnya malam
Namun ia akan tetap hadir hari esok sayang.
Meski nyawa tak lagi di badan
Sayang, angin disini sungguh dingin.
Ku titipkan pesan rindu ini padamu melaluinya
Ku harap kau merasakan kerinduan ini
Di setiap nafasmu yang kau hirup
Telah ku titipkan pesan rindu yang di bawa angin lalu
Sayang, rasakan kerindanku
Aku sungguh merindukanmu di sisni.
Tungkop. 17 Juni 2013 (17:59 WIB)
Label:
puisi rindu,
puisiku,
rindu
Subscribe to:
Posts (Atom)