skip to main |
skip to sidebar
Oleh : Rahmat Amien
Dalam tumpukan-tumpukan kertas yang bertabur.
Berserakan entah berantah.
Deadline harus di buru.
Mengejar nilai yang ingin di capai.
Ah. Tak akan pernah selesai.
Dari pagi hingga malam dan pagi lagi.
Lelah badan, tak kunjung usai.
Telpon sana, telpon sini.
Kawan kelompok, bersantai angkat kaki.
Namun hanya teman yang baik yang paling mengerti.
Insomnia sudah jadi kebiasaan diri.
Mengejar deadline yang sudah pasti.
Tak luput doa di hati.
Mengejakannya meski malam hari.
Oh tuhan, berilah hamba kekuatan dalam mengerjakan tugas ini.
Lelah badan tak terfikirkan lagi.
Semangat dari pacar sudah mulai basi.
Lalu bagaimana ini?
Samebody help me
Lamnyong, 26 Juli 2013 pukul 5:08
Oleh : Rahmat Amien
Kau berjalan cukup jauh,
sehingga tidak dapat kugapai.
Aku berhenti mengejar, kala hujan jatuh.
Aku tertahan di sini, di antara rinai-rinai yang jatuh.
Ragaku tertahan di sini, namun fikiranku berkelana untuk mengejarmu..
Aku terusik dengan ketakutan
dengan perasaan.
Dalam lamunan ku, hanya ada kamu.
Namun aku hanya bisa mencintai dalam diam.
Itu saja yang bisa aku lakukan.
Cinta dalam diam
Membisu dalam perasaan
Antara kebingungan
Aku mencintaimu dalam diam
Meunasah Bakhtu, 6 Juli 2013 (22:38)
Oleh : Rahmat Amien
Sayang, izinkan aku tuliskan puisi rindu untukmu
Saat matahari tenggelam, maka pandangilah dia
Aku akan hadir di antara siluet-siluet rindu
Sayang, lihatlah. Bukankah senja itu indah
Ada gumpalan-gumpalan merah saga di ujung sana
Indah, memancarkan cahaya, bagaikan melagukan kerinduan
Metahari kian tenggelam di makan oleh gelapnya malam
Namun ia akan tetap hadir hari esok sayang.
Meski nyawa tak lagi di badan
Sayang, angin disini sungguh dingin.
Ku titipkan pesan rindu ini padamu melaluinya
Ku harap kau merasakan kerinduan ini
Di setiap nafasmu yang kau hirup
Telah ku titipkan pesan rindu yang di bawa angin lalu
Sayang, rasakan kerindanku
Aku sungguh merindukanmu di sisni.
Tungkop. 17 Juni 2013 (17:59 WIB)
Tak selamana manusia itu sehat
kadang badan sehat, namun fikiran tidak!
Tak selamanya manusia itu benar
Kadang ia juga khilaf
Aku Risau.
Akukacau.
Aku galau
Perasaan yang tiba-tiba menerkam badan
Jika aku pergi malam ini.
Maafkan kesalahan yang pernah terjadi diantara kita
Rukoh, 6 Juni 2013 / 19;48 WIB
oleh Rahmat Amien
Angin senja mendayu begitu merdu
nyanyian ilalang begitu berirama.
Anak-anak bermain ria.
Bersama layang-layang kecil yang melayang di mega.
Angin senja begitu sejuk dan damai dalam kesenangan.
Awan bergerak perlahan.
Angin senja mengibas-ngibas rambutku yang terurai.
Mentari tak lagi terang sebentar lagi ia akan kembali keperaduannya
yang di ganti dengan pekat malam.
Angin senja begitu damai menyapa daratan..
Nyiur kelapa melambai-lambai mesra.
Lihat, lihat mereka berlarian
mengejar layang-layang putus di bawa angin.
Kesenangan dan keceriaan begitu tergambar mesra.
Angin senja menyisakan kerinduan.
Ranting bergoyong mengikuti irama angin.
Mereka berteriak ke girangan.
Layang-layang terpegang di tangan.
Angin senja bersama matahari yang kian tenggelam.
Menyisakan kirunduan yang mendalam.
Hingga tiba esok hari
pada 8 Juni 2013 pukul 18:36