Pages

Monday 30 December 2013

Tega!

ik07.wordpress.com

Malam ini dingin, sedingin hatiku yang sedang galau, mungkin aku rindu. Rindu akan hadirmu yang telah lama ku tunggu-tunggu. Namun aku tak berhak untuk merindui mu. Karena kau bukan milikku lagi. Tapi otak ini susah untuk dikendalikan. Masa indah itu kembali terlintas di benak ini. Apa yang harus aku lakukan, Ketika aku galau di buat oleh mu, yang kini bukan milik ku lagi. Mungkin rasa cinta itu masih ada. Masih terpatri dalam hati.

Ah, kenapa kenanga-kenangan itu kembali teringat di benak ini. Bukan kah kau telah pergi menjauh dari ku. Biarkan saja, itu hanya sebuah kenangan yang menjadi sejarah. Kenangan cinta kita. Saat-saat indah ketika kita masih bersama. Aku masih ingat ketika awal kita bertemu dulu, di kantin sekolah kita. Aku marah-marah padamu,karena kau menyenggolku dan menumpahkan minuman yang ada di tangganmu mengenai bajuku. Hanya kata maaf yang keluar dari mulutmu yang seksi itu. Aku sadar aku marah-marah tanpa melihat betapa manisnya dirimu, aku terlalu sibuk membersihkan baju seragamku. Namun kau terus meminta maaf. “maafkan aku, aku tidak sengaja” hanya kata itu yang kau ulang-ulang meski aku terus memaki-maki dirimu. Mungkin kenangan itu terlalu singkat untukku. Namun apa yang harus ku perbuat. Tuhan berkehendak lain.

Harapan demi harapan hilang diterjang badai api cemburu, ketika hati mulai bergemuruh, dada terasa sesak. Masih teringat kalimat yang keluar dari bibir manismu itu, “kita sudah tidak cocok. Lebih baik kita berteman saja”. Hati ini bagai bagai teriris-iris sembilu. Menangis menahan sakit yang menyesakkan dada. Ah, ku pikir kau memang tercipta untukku, namun aku salah. Ah buat apa aku menyalahkan diri sendiri, mungkin sekarang kita berpisah dan kita tidak tahu apa rencana tuhan yang sebenarnya. Mungkin memang benar, tulang rusuk ku yang hilang diciptakan untukmu.

Aku terus menangis sepanjang malam, mengingat kenapa kau harus melakukan ini padaku, hati ini terlalu sakit menerima kenyataan, apakah aku harus menyalahkan tuhan atas kerana kau putuskan cintaku yang tulus padamu. Aku tak tahu, apakah aku harus menyalahlakan tuhan atas kepergianmu dari hidupku.
***

Maafkan aku, yang telah menyakiti hatimu. Sejujurnya aku tak tega memutuskanmu. Karena kau sangat berarti dalam hidupmu. Namun kenyataan itu akan lebih pahit lagi ketika tahu aku hanyalah secuil dosa yang pernah hadir di hidupmu. Aku terpaksa melakukan ini, agar kau tak malu menerima kenyataan itu.

Aku sudah merencanakan ini, semenjak aku tak tahan melihat kelakuan Bapakku yang semakin hari semakin menyiksa Ibu, setiap hari Bapak terus mencaci maki Ibu, bahkan Bapak tak segan-segan main kasar kepada Ibu. Aku tak tega melihat Ibu yang setiap hari terus di siksa oleh Bapak. Mungkin ini bermula ketika Bapak mengalami gulung tikar dari usaha yang dirintisnya, semanjak itu kami harus tinggal di kontrakkan kecil.

Aku ingat hari itu aku telah bertekat untuk menghabisi Bapak. Tepat di hari aku memutaskan mu Dinda. Namun tekat ku semakin bulat ketika aku melihat Bapak sedang mengamuk di rumah, bahkan Bapak tak segan-segan untuk membunuh Ibu apalagi aku. Hari itu kesabaran ku sudah tak dapat ku tahan lagi, Bapak dengan sengaja mamasukkan perempuan selain Ibu ke rumah, aku tidak tahu siapa dia. Mungkin wanita yang ditemukan Bapak di pinggir jalan sana. Ibu tak tahan melihat kelakuan Bapak, hari itu ibu bertengkar hebat dengan Bapak. Bahkan ibu juga sempaty meminta cerai kepada Bapak. Namun Bapak tidak menggubrisnya. Malah bapak menghajar ibu tanpa ampun.

Hari itu juga aku melihat ibu di cekik oleh Bapak, aku terkesiap dan melangkah menghajar Bapak. Sedangkan wanitu itu asik duduk manis sambil melambungkan asap rokok yang di hisapnya. Bahkan Bapak semakin leluasa mencekik Ibu dan mendorongku hingga membentur tembok kontrakan kami. Aku melihat ibu semakin tidak berdaya menahan cekikan yang di lakukan oleh bapak.

Kepala ku terasa sakit, mungkin akibat dorongan yang sangat kuat oleh Bapak hingga kepala ku terbentur tembok. Aku meringis kesakitan, sambil memanggang kepala ku yang terasa sakit. Aku merasakanada sesuatu yang kental keluar dala kepalaku, dan sedikit anyir. Ya akibat benturan yang kuat itu kepala ku mengeluarkan darah segar. Sedangkan ibu semakin tak berdaya. Aku mengambil botol minuman keras yang berada tepat di sampingku, lalu aku memukul botol itu ke kepala bapak. Bapak meringis kesakitan, dan berhenti mencekik ibu. Aku segera menolong ibu, namun ibu sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku menangis sesegukan sambil memeluk ibu.

Lalu ada aku merasakan sakit yang teramat ketika ada benda yang menusuk tepat di perutku. Bahkan aku merasakan perutku semakin di tusuk-tusuk dengan benda tajam, aku berteriak menahan sakit ketika aku di tusuk-tusuk, aku semakin tak tahan menahan sakit ini, mataku semakin lama semakin buram. Aku semakin lemas dan terjatuh tepat di atas jasad ibu. bahkan aku tak sanggup lagi membuka mata, mataku semakin lama semakin kabur, hingga akhir aku menutup mata.

Bau anyir tercium di mana-mana. Wanita itu berteriak keras meminta tolong. Bahkan bapak juga membentur kepala wanita itu ke tembok hingga ia diam, dan aku tidak mendengar suaranya lagi.
***

Aku semakin kacau, bahkan hari ini aku merasa malas untuk berangkat ke sekolah. Bunda merasa cemas, bahkan Bunda berniat memanggil dokter memeriksa keadaanku yang seang drop karena patah hati di putuskan oleh Randi.

“Apa perlu Bunda panggilakan dokter sayang” Tanya Bunda
“tidak perlu Bun, aku tidak apa-apa. Aku hanya tidak enak badan saja” jelas ku seadanya.
Hari itu aku hanya melamun di depan tivi. Mengganti canel demi canel. Bahkan aku merasa tidak ada siaran yang bagus hari itu.

“permisa. Seorang Bapak tega membunuh Istri dan Anaknya, sekarang tersangka yang berinisial WT”

Aku terkesiap melihat om wisnu di berita itu, apa benar yang di beritakan itu? Batin ku semakin terkesiap tidak sanggup menerima kenyataan. “Om Wisnu membunuh istri dan anaknya????” aku semakin tidak menyangka. Bahkan aku berteriak histeris yang membuat Bunda kaget. Lalu aku merasa lemas, mataku semakin mengeluarkan air mata dan terjatuh tak sadarkan diri.

Monday 26 August 2013

Di Bawah Lembayung Senja

Di antara mega-mega, tersirat kagum yang menakjubkan.
Lembayung senja mengukir mega-mega.
Di antara padatnya lalulintas jalanan.
Di antara anak kecil berjalan kaki, menuju surau mengenal Alif, Ba, Ta, Tsa.
Mengukir mimpi, di antara hilir pikuk kendaraaan yang terlihat jelas.
lembayung senja terlihat lebih real.
Di antara para pekerja yang kembali pulang
Di antara pemuda yang berjalan menuju masjid.
Semua terlihat lebih nyata di bawah lembayung senja
Aku terlalu sibuk memperhatikan
Melukis kata demi kata hingga menjadi kalimat
Kini lembayung senja pergi!
Gelap pun menggantikan.
kini malam tiba.
Dari lantunan panggilan ilahi, aku beranjak pergi.
Di depan jalanan raya, Blangpidie - Nagan Raya. 21 Agustus 2013, 18:48 WIB

Tuesday 20 August 2013

Hujan dalam Ingatan!

Sengin kala hujan turun.
Aku terpaku dalam kehangatan selimut ini,
Hujan turun deras membasahi tanah-tanah yang dulu kering.
Suaranya begitu lantang memecahkan suasana.
Tik tik tik terdengar dengan keras dari atas genteng rumahku.
Ya hujan, setiap kali ia turun menyapa bumu.
Selalu ada kerinduan yang menyapa.
Kerinduan masa kecil yang indah
Menuai kisah dalam kehangatan,
Hujan bagaikan elegi yang bersimponi kerinduan
meski batin kini nelangsa
namun mata sudah sayu dalam kedinginan dan keheningan malam
dan aku pun tertidur pulas
bermimpi mengenang dan kembali ke masa yang tak bertepi
kisah manis, menanti senja di ujung sungai
kembali-kembali berputar-putar dalam kisah
ah, biarkan ku akhiri saja mimpi ini,
terlalu lemas batin ini mengenang kenangan manis yang sudah menjadi sejarah

August 19, 2013 at 8:33pm

Friday 26 July 2013

Somebody Help Me

Oleh : Rahmat Amien

Dalam tumpukan-tumpukan kertas yang bertabur.
Berserakan entah berantah.
Deadline harus di buru.
Mengejar nilai yang ingin di capai.
Ah. Tak akan pernah selesai.
Dari pagi hingga malam dan pagi lagi.
Lelah badan, tak kunjung usai.
Telpon sana, telpon sini.
Kawan kelompok, bersantai angkat kaki.
Namun hanya teman yang baik yang paling mengerti.
Insomnia sudah jadi kebiasaan diri.
Mengejar deadline yang sudah pasti.
Tak luput doa di hati.
Mengejakannya meski malam hari.
Oh tuhan, berilah hamba kekuatan dalam mengerjakan tugas ini.
Lelah badan tak terfikirkan lagi.
Semangat dari pacar sudah mulai basi.
Lalu bagaimana ini?
Samebody help me

Lamnyong, 26 Juli 2013 pukul 5:08

Tuesday 9 July 2013

Dalam diam

Oleh : Rahmat Amien

Kau berjalan cukup jauh,
sehingga tidak dapat kugapai.
Aku berhenti mengejar, kala hujan jatuh.
Aku tertahan di sini, di antara rinai-rinai yang jatuh.
Ragaku tertahan di sini, namun fikiranku berkelana untuk mengejarmu..
Aku terusik dengan ketakutan
dengan perasaan.
Dalam lamunan ku, hanya ada kamu.
Namun aku hanya bisa mencintai dalam diam.
Itu saja yang bisa aku lakukan.
Cinta dalam diam
Membisu dalam perasaan
Antara kebingungan
Aku mencintaimu dalam diam

Meunasah Bakhtu, 6 Juli 2013 (22:38)

Tuesday 18 June 2013

Puisi Rindu

Oleh : Rahmat Amien

Sayang, izinkan aku tuliskan puisi rindu untukmu
Saat matahari tenggelam, maka pandangilah dia
Aku akan hadir di antara siluet-siluet rindu
Sayang, lihatlah. Bukankah senja itu indah
Ada gumpalan-gumpalan merah saga di ujung sana
Indah, memancarkan cahaya, bagaikan melagukan kerinduan
Metahari kian tenggelam di makan oleh gelapnya malam
Namun ia akan tetap hadir hari esok sayang.
Meski nyawa tak lagi di badan
Sayang, angin disini sungguh dingin.
Ku titipkan pesan rindu ini padamu melaluinya
Ku harap kau merasakan kerinduan ini
Di setiap nafasmu yang kau hirup
Telah ku titipkan pesan rindu yang di bawa angin lalu
Sayang, rasakan kerindanku
Aku sungguh merindukanmu di sisni.

Tungkop. 17 Juni 2013 (17:59 WIB)

Monday 10 June 2013

Risau

Tak selamana manusia itu sehat
kadang badan sehat, namun fikiran tidak!
Tak selamanya manusia itu benar
Kadang ia juga khilaf
Aku Risau.
Akukacau.
Aku galau
Perasaan yang tiba-tiba menerkam badan
Jika aku pergi malam ini.
Maafkan kesalahan yang pernah terjadi diantara kita

Rukoh, 6 Juni 2013 / 19;48 WIB

Saturday 8 June 2013

Angin senja

oleh Rahmat Amien

Angin senja mendayu begitu merdu
nyanyian ilalang begitu berirama.
Anak-anak bermain ria.
Bersama layang-layang kecil yang melayang di mega.
Angin senja begitu sejuk dan damai dalam kesenangan.
Awan bergerak perlahan.
Angin senja mengibas-ngibas rambutku yang terurai.
Mentari tak lagi terang sebentar lagi ia akan kembali keperaduannya
yang di ganti dengan pekat malam.
Angin senja begitu damai menyapa daratan..
Nyiur kelapa melambai-lambai mesra.
Lihat, lihat mereka berlarian
mengejar layang-layang putus di bawa angin.
Kesenangan dan keceriaan begitu tergambar mesra.
Angin senja menyisakan kerinduan.
Ranting bergoyong mengikuti irama angin.
Mereka berteriak ke girangan.
Layang-layang terpegang di tangan.
Angin senja bersama matahari yang kian tenggelam.
Menyisakan kirunduan yang mendalam.
Hingga tiba esok hari

pada 8 Juni 2013 pukul 18:36












Penat!

oleh Rahmat AMien

Penat dalam kebisingan.
Panas dalam ruangan.
Bagaikan jeritan yang tak tau arah.
Gaduh dengan teriakan.
Tatapan lirihnya begitu dalam dan bersahaja.
Tak ada yang memperdulikannya di sana.
Bersama ilmu yang di milikinya.
Tak perduli di dengar atau tidak.
Tak perduli di mengerti atau tidak.
Sulit sekali menjinakkan manusia-manusia
yang katanya berpendidikan.
Namun tak pernah menghargai yang di depan.
Gaduh, berisik, cuek, berkumpul jadi satu.
Menjadi saling tak perduli.

pada 8 Juni 2013 pukul 17:30

Fikirkan satu nama



Oleh Rama Hasan 

Lihat ke atas. Lukiskan keingananmu disana.
Gerakkan tanganmu
membentuk huruf demi huruf.
Fikirkan satu nama saja
Bintang di sana akan mengisyaratkan kemenangan dalam ke iklasan hati.
Jangan ragu, tuliskan kata demi kata.
Bintang melayang di angkasa raya,
memancarkan keindahannya.
Ku yakin goresan kerinduanmu akan terbaca olehnya.
Lukiskan dengan harapan, bahwa ia akan melihat lukisan isi hatimu bersama bintang malam ini.
Fikirkan satu nama

pada 7 Juni 2013 pukul 22:26

Aku cemburu pada langit



oleh Rama Hasan

Aku cemburu pada langit malam ini.
Dia begitu polos dengan keindahannya.
Aku tahu cinta itu anugrah.
Aku hanya akan diam dalam kehampaan hati.
Yang datang dengan banyak harapan.
Aku cemburu pada langit malam ini.
Ia yang memancarkan cahaya kecemburuan malam ini.
Hati bergejolak dengan cinta ini.
Aku cemburu pada langit yang pekat malam ini
ia membisikkan kerinduan
namun juga membuat kegundahan yang meraja

pada 7 Juni 2013 pukul 22:02

Monday 3 June 2013

Lewat semesta

player.mashpedia.com
Perjalanan ini begitu panjang, namun harus dilaui, meski liku-liku untuk menghadapi tikungan tajam nan menakutkan sering kali muncul setiap saat, kerikil tajam sering menghadang kala Iqbal lelah, semesta ini begitu kacam, namun ada cinta di antara manusia yang menumbuhkan rindu. Rindu dan cinta yang menguatkannya untuk terus menghadapi perjalanan ini, meskipun kerikil-kerikil tajam di depan mata.

Dia akui tidak semua perjalanan itu mulus, pasti ada tikungan yang membahayakan. Disini ia merasa galau. Apa yang harus dihadapi ketika benar-benar droup, terjatuh, atau hancur. Tidak, ia tidak hancur. Iqbal harus berjuang untuk melihat seulas senyum dari umi, umi adalah semangatnya untuk tetap melanjutkan perjalanan ini. Seperti kata  bijak yang sering di dengar “disetiap kesusahan, pasti ada kemudahan” Iqbal percaya akan itu. Meski ia susah ada keluarga menyemangatinya, ada teman yang membantunya. Dan ada doa dari umi dan ayah di setiap langkahnya.

Sepertiga malam



Oleh : Rama Hasan

Terbangun dan terkejut.
Mimpi itu seolah nyata.
Ku coba bangkit, membasihi tubuhku dengan wudhu rindu.
Ku bentangkan sajadah cinta.
Ku tegakkan tubuh di sepertiga malam ini.
Memohon ampun pada-Nya atas kealpaan diri.
Sujud demi sujud terjadi.
Mengucapkan syukur dan doa di ujung shalat ku ini.

Tungkop, 3 Juni 2013 (02:41 WIB)

Ayo bangkit

Oleh Rahmat Amien

Jangan malas. Bangkit dan kerjakan.
Tunggu apalagi, lakukan sekarang.
Jangan melawan perintah orang tua, karena itu dosa.
Bangkit dan ikuti perintah itu.
Buang rasa malasmu.
Bangkit lalu kerjakan dengan ikhlas.
Malas itu rayuan setan.
Jangan kau turuti. Karena kau bukan budak setan.
Ayo bangkit dan kerjakan.
Jangan menunda-nunda, karena waktu itu singkat.
Belum tentu kau akan melihat senyum manis itu di bibirnya esok.
Tuhan bisa saja berkehendak seperti yang dia mau.
Ayo bangkit dan ikuti perintah.
Jangan lakukan karena terpaksa, itu bisa menimbul umpatan di hati.
Berikan senyum iklasmu dan lakukan dengan tulus hati.

Tungkop, 2 Juni 2013 pukul 16:48

Mencari!



oleh Rama Hasan

Mencari mendapat benci.
Mencari adalah ritual diri.
Dalam kesendirian. Sepi.
Galau hati tak terpikirkan lagi.
Mencari dan terus mencari.
Kata yang mengganjal di hati.
Hingga aku merasa lega ketika sudah mendapatkan
Apa yang ku cari selama ini.
Mencari, mencari dan mencari.
Apa yang aku cari?
Aku pun tak tahu.
Mencari sesuatu yang tak pasti.
Yang merisaukan hati
Tak dapat ku pungkiri lagi.
Hati ini risua memikirkannya nanti
Cinta.??
Apakah aku mencari cinta??
Hemm. Mungkin itu yang mengganjal hati ini

Tungkop, 2 Juni 2013 pukul 15:15